Ruang Mistis – Slenderman, sebuah legenda urban yang berasal dari internet. Menjadi pusat perhatian dunia pada tahun 2014 setelah insiden mengerikan yang melibatkan dua remaja perempuan di Amerika Serikat. Legenda ini dianggap memengaruhi tindakan mereka hingga terlibat dalam percobaan pembunuhan terhadap teman sekelas mereka. Kedua remaja tersebut, yang baru berusia 12 tahun, mengklaim bahwa tindakan itu dilakukan untuk menyenangkan “Slenderman”. Kisah tragis ini mengungkap sisi gelap pengaruh media digital terhadap anak-anak dan remaja. Sekaligus memperingatkan tentang bahaya penyebaran konten seperti ini di dunia maya.
Slenderman adalah sosok fiksi yang pertama kali muncul di internet pada tahun 2009 melalui sebuah kompetisi gambar paranormal di sebuah forum. Karakter ini digambarkan sebagai sosok tinggi, ramping, dengan wajah yang datar dan tanpa ekspresi. Serta memiliki tentakel yang keluar dari punggungnya. Dalam beberapa tahun, legenda ini berkembang menjadi urban legend yang populer di kalangan remaja dan anak-anak. Dengan banyak cerita yang mengaitkannya dengan aktivitas supernatural dan kekerasan. Meskipun hanya karakter fiksi, Slenderman menjadi sangat populer di kalangan remaja yang mencari cerita horor di internet.
“Baca Juga : Keamanan Listrik PLN Sudah Terjamin Wamen BUMN pada Nataru”
Pada Mei 2014, dua remaja perempuan, Morgan Geyser dan Anissa Weier, yang berusia 12 tahun, menyerang teman sekelas mereka, Payton Leutner, dengan tujuan untuk “menyembah” Slenderman. Mereka merencanakan pembunuhan tersebut selama beberapa bulan dan membawa Payton ke sebuah taman di Waukesha, Wisconsin, di mana mereka menyerang korban dengan pisau. Mereka berusaha untuk membunuhnya agar bisa membuktikan kesetiaan mereka kepada Slenderman, yang mereka yakini sebagai makhluk nyata. Untungnya, Payton berhasil selamat dan ditemukan oleh seorang pengendara sepeda yang melaporkan kejadian tersebut ke polisi.
Kasus ini menarik perhatian publik karena menunjukkan betapa besar pengaruh internet, khususnya media sosial dan cerita fiksi, terhadap perilaku remaja. Geyser dan Weier mengaku bahwa mereka merasa tertekan untuk membunuh teman mereka sebagai pengorbanan untuk Slenderman, yang mereka percaya akan memberi mereka kekuatan supernatural. Ini menunjukkan bagaimana karakter fiksi dapat memiliki dampak yang sangat nyata pada psikologis remaja, terutama dalam kondisi psikologis yang rapuh.
“Simak juga: iPhone Generasi Baru Hadir Dengan Desain Tanpa Bezel, Simak Tanggal Perilisannya”
Setelah insiden tersebut, Geyser dan Weier ditangkap dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan. Proses hukum ini menyoroti bagaimana kasus tersebut bukan hanya tentang kejahatan, tetapi juga tentang kesehatan mental para pelaku yang sangat dipengaruhi oleh budaya internet. Geyser didiagnosis dengan gangguan psikotik, sementara Weier, meskipun tidak mengalami gangguan yang sama, juga menunjukkan tanda-tanda stres psikologis yang mendalam. Kasus ini memicu perdebatan mengenai peran internet dalam membentuk persepsi remaja terhadap dunia dan betapa pentingnya pengawasan orang tua dalam penggunaan teknologi.
Kejadian ini menimbulkan keprihatinan besar di kalangan orang tua, pendidik, dan masyarakat umum mengenai dampak dari budaya internet pada perkembangan remaja. Banyak yang bertanya-tanya bagaimana cerita fiksi seperti Slenderman bisa memengaruhi remaja dengan cara yang begitu ekstrem. Selain itu, ada pula diskusi tentang bagaimana teknologi bisa menjadi pedang bermata dua bagi generasi muda, memberikan mereka akses ke informasi yang luas, tetapi juga membuka mereka pada konten yang berbahaya dan dapat merusak.